Bali, setelah kejadian itu
aku gemetar kedinginan karena sengaja merendam kakiku berlama-lama dalam indahnya pantai pandawa, pantai yang sudah menjadi saksi bisu dari kerapuhanku kala itu. ada sedikit penyesalan karena aku mengatakan hal yang seharusnya hanya menjadi milikku.
ada sebuah kemarahan pada semesta karena dia membuat aku dan dia bersua tanpa rasa yang sama. sudah terlampaui jauh tapi hanya aku yang merasa, entah dia tidak merasa atau tidak peduli aku juga tidak tahu. 2 tahu sudah aku menyimpan rasa itu, dengan sebuah kalimat
"endingnya ada di akhir tak perlu di cemaskan sekarang"
aku menyesal, sangat karena cepat atau lambat aku harus bersiap.
tanganku menyentuh jari-jari kakiku yang sudah mengeriput, kedinginan. tapi aku masih enggan mengangkatnya keluar dari air. karena sepotong hati ini juga sudah tercelup dalam penyesalan yang takkan pernah bisa di angkat.
"Tuhan!!!", teriakku
"kenapa kau ciptakan dia dengan begitu indah, bahkan senja saja merasa malu tampil di depannya", bisikku mengadu.
ombak tenang yang menerpa lembut pada kakiku membuat ingatan menyedihkan itu kembali tanpa meminta izinku terlebih dulu.
"Kamu tahu tidak kalau aku sudah menyukaimu sejak 2 tahun yang lalu?"
"tahu, aku sudah tahu sejak lama", katanya. sebuah kalimat pendek yang mampu membuatku terhenyak hingga beberapa menit, tapi dia tidak mengganggu melainkan menungguku kembali dari keterkejutanku.
"lalu kenapa tidak bicara dari awal?"
"karena aku pikir, itu semua cuma prasangka"
"lalu aku harus apa kalau semua sudah terlanjur sedalam ini?"
"aku kira perasaanmu itu bukan untukku maka dari itu aku diam"
untuk beberapa saat dia dan aku cuma diam membiarkan keheningan melarutkan lamunan dalam pikiran masing-masing.
"bukannya kamu sudah mencintai dia?"
ini salah, salahku karena beralibi aku menyukai orang lain padahal yang aku sukai adalah kamu, cuma kamu. tuan, kamu yang sudah membawa kapal ini berlayar terlalu jauh dan hidup dengan harapan akan kembali ke daratan. tapi naas, bukan itu yang aku lihat sekarang.
aku melihat kapal itu sudah rapuh, diterjang ombak berkali-kali tapi masih tetap percaya bahwa semua akan baik-baik saja, kapal itu lupa bahwa selalu ada 2 kemungkin dalam setiap hal, kemungkinan baik dan kemungkinan buruk.
kemungkinan buruk.
aku sedang berada di sana, di jurang nestapa yang curam, sangat curam.
"aku pikir kau mencintainya", kamu mengulang kalimat itu sekali lagi yang membuatku semakin sakit.
"berkata bahwa aku menyukainya hanya alasan supaya aku tak terlihat menyukaimu"
"bohong", kamu masih menyergah.
"tidak, itu benar"
kemudian aku melihat kamu mengusap wajah dengan frustasi, mengacak rambutmu sendiri dengan kesal, tapi aku tak tahu mengapa? ingin sekali aku bertanya, "mengapa?"
tapi kalimatmu selanjutnya sudah mendahui kalimatku yang tersangkut di tenggorokan.
"aku kira kau mencintainya, bagaimana aku tahu kalau akhirnya justru seperti ini?".
aku tidak bisa menerjemahkan kalimatmu barusan, aku mulai takut menerka-nerka, aku takut untuk kembali kecewa.
"tapi maaf, kamu sudah ku anggap adik kecil yang harus selalu ku jaga, sahabat dan tempat bercerita paling menyenangkan, maaf"
kamu menunduk.
dan aku sangat benci melihatmu tertunduk seperti ini.
"maafkan aku, aku tidak bisa mencintaimu"
di dietik itu juga aku menangis, ikut tertunduk seperti dia. tangisan yang tak kunjung mereda walau tangan hangatnya itu selalu berusaha menenangkanku dengan belaian di puncak kepalaku. itu adalah belaian yang sangat aku sukai.
aku kembali menangis, tapi sudah berniat untuk pulang.
tapi tunggu, aku melihat sosokmu di sana, tersenyum ke arahku dan berkata,
"ayo kita pulang"
bali kamu menjadi saksi bisu ketidakmampuanku menolak permintaannya itu.
Komentar
Posting Komentar